Rabu, 08 Februari 2012

Sajak Bening


oleh Saßitah Sûnyi pada 22 Februari 2011 pukul 15:56 ·
Dan ini sepertiga malam, hati meredam kelam. Desau angin lembut menjemput kabut. Mengerling pada reranting kering,pun tetaskan embun pada pepucuk daun... Sepi meletak sunyi. Laun kidung bersenandung ketika bening terlerai dari kelopak netra. Ada harap yang terucap; "wahai Engkau yang menggenggam nyawaku disela telapak jemari tanganMu...ampuni aku"

Tertatih


oleh Saßitah Sûnyi pada 1 Maret 2011 pukul 10:56 ·
Terjebak

Terdesak...

Lalu bagai reranting rapuh

...luruh melambai jatuh

Tanya terjerembab jawab

...entah

Sajak Malam


oleh Saßitah Sûnyi pada 3 Maret 2011 pukul 11:32 ·
Katak-katak terbahak-bahak. Jangkrik-jangkring tertawa-tawa. Dan bahkan, sepertinya seisi penghuni sawah larut dalam desah senandung suara alam pada malam... Dan aku...tetaskan sunyi diri saat semilir angin lirih berbisik; " binatang malampun gelinjangkan asa demi masa akan cita" >> 22.30 PM sawah ndilem

Sisa jejak sajak malam


oleh Saßitah Sûnyi pada 4 Maret 2011 pukul 0:30 ·
Setapak jalan berumput duri alas jati. Pias rona cantik menggelitik tuk bebani langkah kaki... Tanpa senyuman semu. Hanya tatapan netra yang kosong, seiring anjing melolong. Terlukiskan misteri jejak dua alam...malam senyap >> 00.20 AM alas jati 04/03/11

Catatan iseng ( seekor semut )


oleh Saßitah Sûnyi pada 9 Maret 2011 pukul 7:14 ·
Aku melihat seekor semut, sepertinya tersesat. Dan kulihat lagi satu kaki sebelah kirinya tlah patah. Ia tertatih dalam langkah, bingung mencari jalan tuk pulang... Dan aku tertegun ketika lagi-lagi kulihati, ternyata ia memanggul serpihan roti, pun tiga kali lebih besar dari tubuhnya.

Syair Sunyi


oleh Saßitah Sûnyi pada 10 Maret 2011 pukul 12:23 ·
Gelap kelopak malam lelapkan syair yang tlah hilang. Mengawang makna memetik kata tanpa gelinjang rasa... Hanya langut diri tiduri sepi, saat langit terisi lengkung sabit dewi malam. Pun tanpa kerlip zohra... Saßitah sunyi

Sajak nan lantak


oleh Saßitah Sûnyi pada 19 Maret 2011 pukul 6:23 ·
Jangan memaksaku menulis syair cinta karna kataku bernyawa terista... Jangan memaksaku menulis sajak asmarandhana karna kataku sumbang melagu lara... Biarkan syairku mengalir sunyi...atau bahkan...biarkan mati.

Kesunyian Hati (hampa)


oleh Saßitah Sûnyi pada 22 Maret 2011 pukul 6:34 ·
Bidadari tak lagi bernyanyi
Batari suralaya tak nampak bersasmita
Bahkan, mahadewi tak lagi bersimfhony

Cinta...
kemana lagi kulangkahkan rasa yang mampu pijakkan makna sajak asmarandhana ?

Hujanpun lantam melaram
memanggil angin,

bawakan gigil

Risau


oleh Saßitah Sûnyi pada 23 Maret 2011 pukul 12:04 ·
Desah angin malam melagu beku
Gemuruh rasa memendam kegelisahan jiwa

Dan kata...

tergeletak tanpa makna

Bingkai hati...(sabitah sunyi)


oleh Saßitah Sûnyi pada 26 Maret 2011 pukul 22:37 ·
Membulir untai ceritera sajak asmarandana

Bidadari...
Indah laun lambai sasmita seiring desah pawana
Rona terbayang menyapa kenang
Terista tertata
Kemudian rembihpun terlerai ketika pesona kirana penyulam asa sebentuk cita yang tak dapat tercipta
Elegipun mengendap, lantam mengisi sunyi

Mahadewi
Santun tutur sapa
Indah tersisa rasa pada tiap titian masa
Adalah pesona kirana serupa sempurna bianglala pada langit jumantara
Pun mungkin nanti yakinkan diri tuk menyapa sua,mahadewi swargaloka

Batari...
Teslukis binar indah dewi suralaya
Retak kebekuan hati
Hanya kemudian bulirkan ceritera usang; kenang rona yang tak mampu mengejawantahkan kesederhanaan rasa...akhir mengenyam nyilu

Berakhir entah...pun usai sudah

"oknum" DPR RI


oleh Saßitah Sûnyi pada 11 April 2011 pukul 1:31 ·
Nurani nan tuli. Telinga nan buta. Kelamin yang menganga... Pembuktian diri yang mati. Keinginan busuk serupa tai tetap kau ingini. Apa yang dapat dibanggakan darimu?! Menatap polah tidur lelapmu? Atau bahkan..menatap tingkah liar otak mesummu?! Sidang nan sia-sia. Undang-undang; peraturan dibuat untuk dilanggar ! Kecewa..tak percaya... Kini pongah tingkahmu harapkan gedung mewah. Ngaca ! TELANJANGI dirimu !!

Tanpa judul


oleh Saßitah Sûnyi pada 18 April 2011 pukul 15:43 ·
Rembulan tak mampu menebar pijar saat jumantara malam mengidung tembang mendung... Sia-sia setangkup rindu penuh rasa membiru bisu. Membulir rayuan kelu diantara senyuman semu. Tangis merimis kemudian. Harap cita tak mampu menetas sua. Tersipu. Menipu,bahkan mungkin kan tertipu...berakhir nyilu. Buah cinta asmara maya.

Plesiran Sang Dewan (study banding? )


oleh Saßitah Sûnyi pada 26 April 2011 pukul 14:08 ·
Adigang adigung adiguna yang tak menetas guna hanya mengumbar kesenangan nafsu belaka. Ongkang-ongkang kaki, matikan nurani diri hanya mampu ONANI keluar negri!... Tutup mata, tutup telinga. Pendekar silat lidah paling handal; kegedén empyak kurang cagak. Plesiran sia-sia tanpa menatap si miskin sengsara. Janji kepada rakyat hanya pantas diumpat; keparat ! Kata apa lagi yang mampu kulemparkan kepada sang dewan ? Kata bijaksana ? Tidak ! Kata bijaksanaku tlah mati seiring matinya nurani sang dewan !

Luka ( dengarlah bisikku dara )


oleh Saßitah Sûnyi pada 29 April 2011 pukul 9:10 ·
Terukir ngilu tentang teristamu. Engkau datang tertatih membawa luka. Perih merintih merenai rembih... Aku dengarkanmu. Isak menyesak menahan tangis bagai gerimis merimis pada malam... Tentang dia yang menyayat luka pada jiwamu seakan mampu kurasakan nyilu... Duhai dara. Biar ku usap lembut bening air matamu. Simpaikanlah sayap rapuhmu pada bahuku. Dengar bisikku; jika terasa berat beban itu...letakkanlah. Senyumilah terista jika masih ingin mensyukuri indahnya dunia.

Hitam-putih ( kirana maya )


oleh Saßitah Sûnyi pada 7 Mei 2011 pukul 4:16 ·
Dan ceritera wanita2 itu terdengar membahana saat aku bermain di dua warna. Hitam. Putih... Liar. Senyum merayu menyimpan nyilu. Binal menggoda sembunyikan luka. Malu terbunuh saat menjual tubuh. Wanita rapuh... Tenang. Selayak lembut desau angin membelai reranting. Senyum merona terlihat sederhana. Tanpa terista ketika mampu merangkai asa apa adanya. Wanita bersahaja... Hitam. Putih. Hidup adalah perjuangan...dalam pilihan

Syair Sunyi


oleh Saßitah Sûnyi pada 17 Mei 2011 pukul 14:51 ·
Jelaga malam. Hanya suara reranting kering berdenting seiring angin melambai daun. Pun bicara tanpa suara, kata tak mengucap makna. Karam dalam diam.

Luruh


oleh Saßitah Sûnyi pada 19 Mei 2011 pukul 13:15 ·
Kemudian anggun pesonamu membelenggu rinduku. Sebab rasa yang tersisa hanya serupaa tembang asmarandhana... Kemudian ranum senyum bibirmu membungkam kalimatku. Sebab dihadapmu tiada kata yang mampu terlempar keluar tuk dicipta... Lalu binar netramu silaukan socaku. Sebab saujanaku hanya ada bayangmu. Sungguh; aku luruh

Biarkan Sanjakmu Terbungkam


oleh Saßitah Sûnyi pada 24 Mei 2011 pukul 5:09 ·
Amarah
Dendam
Luka
Bahkan cinta masih menggumpal berjelaga pada sanjakmu

Merimis tangis terlempar terista yang menganga

Sungguh...
terbesit keinginan diri tuk mengubah sanjakmu
Hanya saja sanjak tentangmu akan bayang yang tak ingin dikenang masih lancang membayang menang
...rindu terbungkus semu

Untukmu yang menggenggam sanjak elegi...
berikan setitik rasamu buatku,
biar kugantikan sanjakmu dengan sanjakku
Yang terisi kesederhanaan rasa
Yang kan mampu membungkam ceritera terista

Lalu,
jadikan aku...

penyangga sayap patahmu

Sajak ini hanya buatmu


oleh Saßitah Sûnyi pada 26 Mei 2011 pukul 2:14 ·
Dan aku tak hendak melelah diri tuk mencari celah dinding tebing hatimu. Sebab aku meyakinimu sebagai pendamping kepak sayapku; kelak... Dan saat ini akupun belum mampu miliki hatimu. Sebab rasamu masih menyimpan jelaga lara...biar kupinjamkan bahuku sebagai sandaran isak tangismu... Kemudian nanti,saat helai-helai ilalang bersenandung sederhana serupa tembang asmarandhana, kan kurangkaikan kata indah nan lembut hanya buatmu dari kesunyian hati nan hening menyempurna bening; sajak cinta... ( masih kurindui tawa candamu kala itu )

tanpa judul


oleh Saßitah Sûnyi pada 5 Juni 2011 pukul 11:49 ·
Sesungguhnya malam itu milik kita berbagi cerita
Hanya saja saat berteman penerang cahya lintang,
kita hanya mampu berkisah dalam diam

Sesungguhnya dingin itu milik kita
Dan benar adanya kala kabut merenggut,
dingin itu membeku
... pada hatiku,pun jua pada hatimu

( sisa tanya yang terjawab...tidak. )

Gila !


oleh Saßitah Sûnyi pada 11 Juni 2011 pukul 0:56 ·
Bercerita tanpa kata. Bicara tanpa suara. Teriak dalam diam... Hanya melangut tuk melamut kesenyapan kosong... Pun mungkin hanya terpaku menatap cacing-cacing lantang mencaciku diatas tanah gersang.; kamu gila !!

Kirana Maya


oleh Saßitah Sûnyi pada 15 Juni 2011 pukul 13:36 ·
Sempurna purnama panaka indah semburat rona kirana. Kata yang tertata penuh makna. Mungkin; terkadang manja. Bahkan...senyuman semupun mampu merenda rindu... Adalah kirana maya. Mengukir kisah indah pada jiwa-jiwa nan resah... Kirana maya. Tercipta bayang tuk terlukis kenang, sekarang...entah nanti [ pk 21.00 wib. Tepi belantara jati ]

Senandung Sunyi 1


oleh Saßitah Sûnyi pada 25 Juni 2011 pukul 15:37 ·
Bagai kepak sayap sausau memagut reranting,
pun ranum dedaun melambai laun

Adalah malam dalam desah gelinjang gelap
Yang terlelap tak mampu mengejawantahkan segala rasa

Hanya terdiam mendamai diri memanja sepi,
pun terbungkam mencumbu sunyi

Simfhony malam mencipta hampa,

...melagu bisu tanpa rindu.

Roman Picisan


oleh Saßitah Sûnyi pada 26 Juni 2011 pukul 12:12 ·
Dan kata-katapun lelah terucap kala kisah yang kuukir indah tak mampu hiasi kisi-kisi jiwamu. Atau bahkan mungkin kata-kataku taklah mampu memulas warna indah selayak bianglala menyempurna tujuh warna, kala ceritaku tak mampu masuki kedalaman palung jiwamu... Memang, aku bukanlah wangsa yang mampu membelai pesona dengan kemewahan dunia... Dan aku hanyalah aku. Serupa lintang selatan, sendiri memijar sunyi dihamparan jumantara langit malam. Pun hanya mampu menggenggam segenggam wujud kesederhanaan rasa; setia

Senandung Sunyi 2


oleh Saßitah Sûnyi pada 26 Juni 2011 pukul 16:17 ·
Masih, angin melambai daun. Jua rerantingpun mendesis lembut seraya memagut gigil... Sayu netra membawa tatap menerawang awang-awang tuk mencari yang tersembunyi... Tak tertemui cari. Hanya gelinjang sepi merajai tepian pagi seiring daun mencumbu embun. Pula serangga mungil malam mencipta irama; senandung sunyi

Celoteh sang pemberani anak negeri


oleh Saßitah Sûnyi pada 27 Juni 2011 pukul 12:58 ·
Mari bicara tanpa perlu kata bijaksana tentang negeri yang katanya kaya raya. Saking kayanya hanya dengan sebatang kayupun mampu menyuapi mulut isi perut seluruh penghuni negeri. Atau bahkan kemilau emaspun terpampang menggunung gunung... Mari bicara memisuh tanpa perlu membuat rusuh tentang negeri yang santun. Bahwa MUNGKIN orang bijak selalu diam saat terkena tipuan. Saking bijaknya orang penghuni negeri mengatur aturan yang sebenarnya; PERATURAN DIBUAT UNTUK DI LANGGAR... Mari bicara yang seadanya begini adanya. Bahwa sebenarnya benar kita terlahir dari rahim ibu pertiwi yang terlihat nyeri. Bahwa sebenarnya benar bahwa kekayaan bunda nusantara raya hanya milik penguasa ! Kita hanyalah mainan para pejabat keparat laknat. Penjahat berdasi BERMUKA TAI hanya memperkaya diri sendiri. Koruptor bermain birokrasi tanpa miliki hati nurani ! Namun satu hal; kita harus tanamkan pada diri untuk tetap mencintai ibu pertiwi !

Usai


oleh Saßitah Sûnyi pada 30 Juni 2011 pukul 13:29 ·
Menepi ditepian sunyi. Terlintas yang teringinkan pintas... Adalah waktu. Kian meretak tunggu butiran harap. Bahkan tercipta sulaman kata pada tiap sanjak asmara; adalah pesonamu... Kini, usai sudah makna ceritera yang ku untai buatmu. Usai sudah waktu tuk menyemai tunggu. Pun kini, biar kusingkirkan semua rasa tentangmu...jua buatmu

Sayap-sayap patah


oleh Saßitah Sûnyi pada 6 Juli 2011 pukul 16:34 ·
Menemukanmu dalam remang ripuh pandangku. Pun sebenarnya sama; menemukanku dalam sembab socamu... Sebab kita...adalah jiwa-jiwa yang angkuh menyimpan luka, lantam menyulam lara.

Pos 2 wekas. Gunung merbabu


oleh Saßitah Sûnyi pada 11 Juli 2011 pukul 13:43 ·
Seiring laun desau angin, lembut kabut manja mengurai gigil. Pun geliat langit tampak mempesona dengan cahya separuh purnama. Sedang gemerlip lintang, nampak anggun menebar pijar . >>api unggun selter 2 wekas merbabu 9 juli '11

Maaf ( perempuan maya )


oleh Saßitah Sûnyi pada 13 Juli 2011 pukul 14:29 ·
Dear perempuan maya...
Senyum yang kau tanamkan pada kebun hati terasa mati
Sekejap mengecap keindahan kasih jua sayang lalu mudah merangkak hilang

Dear perempuan maya...
Binar soca yang kau pijarkan seakan silaukan pandang
Hanya sesaat layangkan pesona tatap, lalu mudah meredup lenyap

Dear perempuan maya...
Kata yang kau tata seakan rajutan manja
Rayu dalam balutan rindu,mudah tuk melangkah lalu

Dear perempuan maya...
Kebekuan hati terasa kebas tuk tersakiti,
lalu mudah meludah nyeri
karna aku...

...lelaki sunyi

Adalah aku ( syair sunyi )


oleh Saßitah Sûnyi pada 15 Juli 2011 pukul 13:04 ·
Aku kata. Yang berarak lantak bagai ombak memecah karang. Yang memudar lirih bagai buih tepian pantai... Aku kata. Yang melaun sayup simphoni nada tanpa desah pawana. Yang melambai tenang serupa helai ilalang mendendang goyang... Aku kata. Yang mengepak bak kepak sayap sausau melagu desau. Laun berdenting seiring geliat reranting kering. Yang memanja makna bersama simpai purnama... Aku kata. Ya; kata ! Hanya kata.

Menanti Jawaban


oleh Saßitah Sûnyi pada 20 Juli 2011 pukul 11:06 ·
Serupa angin menyeruak rimbun taman ilalang, mengais lajur membelah desah tanpa arah... Senandung sapapun seakan hampa. Panaka secangkup asa yang tak jua meletak nyata serupa ceritera sajak tembang asmaradana... Ragupun membiru tak jua lelehkan beku. Kepastian nan tak jua terungkapkan. Kebimbangan yang masih saja manja tuk tetaskan bayang... Masihkah kan terus mengukir asa pada jumantara rasa? Gundah hanya mampu mengejawantah...entah

Terpuruk


oleh Saßitah Sûnyi pada 23 Juli 2011 pukul 0:41 ·
Ripuh. Meraup peluh hati. Letih tertatih takkan merintih. Pun walau sampai tercabik getah serupa getih >> pk 10.35 wib. Aku masih waras. Kemana asaku ?! ( tanyaku pada bidara-bidara belantara jati nan terdiam sunyi)

Ketika senyum itu melukis rindu


oleh Saßitah Sûnyi pada 24 Juli 2011 pukul 6:09 ·
Kemana langkah ? Ketika sanjak asmara kian letih tertata... Kemana langkah ? Ketika kisi-kisi hati masih rapi tersembunyi tak jua menepi... Kemana langkah ? Ketika rindu memagut kelu menyerupa nyilu... Desir angin memungut gigil, berdawai denting memetik reranting kering...> saßitah sunyi .> sanjak yang tak miliki arti bagimu.

Kasih tak sampai


oleh Saßitah Sûnyi pada 28 Juli 2011 pukul 8:36 ·
Mungkin aku harus pergi. Bukan menyesali, bahkan mungkin tak elok tuk di sesali. Langkahkupun tak perlu redup kau tatap gontai tanpa arah, ketika bisu membawa sisa rindu yang sempat kau berikan buatku... Bahwa benar, kata itu hanyalah serupa benalu pada reranting tunggu. Dan aku harus biarkanmu pergi, dan tak lagi temani sunyi. Pun saat tak mungkin terpaksa memiliki... Sedang aku...tak ingin kembali mengejawantah kata entah. Maaf.

Roman akal-akalan


oleh Saßitah Sûnyi pada 2 Agustus 2011 pukul 8:24 ·
Mungkin belum usai tuk kusulam rindu buatmu. Yang sesungguhnya sunguh, rindu itu seharusnya berlabuh pada hiasan dinding di tebing hatimu... Mungkin terlalu angkuh kulantangkan kata kangen buatmu. Hingga kau muak tuk beranjak lalu. Bahwa sesungguhnya sungguh kangen itu tercipta indah buat rasamu. Ya, hanya buat rasamu... Atau bahkan mungkinpun aku terlalu ria tuk memuja kata cinta. Sebab terlalu lama tak kunikmati senandung tembang asmaradana... Kini, kau beranjak pergi. Bersembunyi, tersenyum menatap sang sunyi

Madewi


oleh Saßitah Sûnyi pada 6 Agustus 2011 pukul 12:51 ·
Senyum merona panaka mentari menetas sapa di puncak ancala

Tutur lembut panaka simfhony kabut

Laun bersasmita selayak gemulai jemari pawana

Madewi...
Renaikan rindu membelai kalbu,
serupa bianglala menyempurna tujuh warna

...itu kamu

(bukan) PROKLAMASI


oleh Saßitah Sûnyi pada 17 Agustus 2011 pukul 0:32 ·
Kami, bangsa penipu. Dengan ini menyatakan kemerdekaan...penipuan. Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain ini, dilakukan dengan cara konspirasi tingkat tinggi dan dalam tempo selama masih bisa...ingin korupsi >> antah berantah, 17agustus 2011. Atas nama bangsa penipu : topeng-tanpa nama

Kangen ( maya )


oleh Saßitah Sûnyi pada 19 Agustus 2011 pukul 13:33 ·
Waktupun terus mengukir kisah. Bahwa rindu tak mampu mengukir usang. Detik yg mengulang menit,bahkan lambai lingkaran jarum jampun terseok tak lesu kala mengingat senyummu... Ada sapa manjamu, pun ada jua kata dewasamu yg mampu endapkan elegi sajakku... Dan letih masaku tak merenai ringkih rasaku tuk memanja temu akan hadirmu... Sebab, kita hanyalah jiwa-jiwa dibelantara maya yg nyata menyulam ceritera sanjak asmarandana

Lonte


oleh Saßitah Sûnyi pada 23 Agustus 2011 pukul 14:14 ·
Kembang malam
beranjak...
bersolek ranum, menebar senyum
memamah rayu,layu memagut semu

Kembang malam
mencumbu angin, memahat dingin
meminjam gigil ,tercekat memahat hangat

Kembang malam
gemulai nakal,menari binal
merekah gairah,menyerapah desah

Kembang malam
pulang...
Melelah resah
Merintih letih
merenai rembih

...dalam balutan sesal

Sajak pagi buat sang kekasih


oleh Saßitah Sûnyi pada 8 September 2011 pukul 20:12 ·
Embun meranum dihelai dedaun terbias mentari di ruam pagi
pun mencecap lembut kelopak mawar yang beranjak tuk gemulai mekar

kekasih...
ada hangat menyimpai pagi kala ronamu melukis senyum buatku
bahkan mampu tebarkan geliat semangat tuk mengukir citaku

kekasih...
Hatur diri ini terima kasih buat rasa yang tlah kau beri

dan ini...
setangkai mawar disetiap pagi,
buatmu

~ zohra ~

Celoteh Tanpa Judul


oleh Saßitah Sûnyi pada 22 September 2011 pukul 11:56 ·
Memahami rasa yang tak hendak mencumbu lara
Bahwa kemudian keambiguan tak jua pahami kesederhanaan hati.
Tak mengapa..
sebab wajar jika melabuhkan rasa dalam jiwa begini adanya

Remang malam kali ini memang tak mengelok indah
ada setangkup sesal diri kala senja meludah amarah
Namun biarlah usai sudah masalah yang mencecap resah, sebab tak elok memendam gundah
Selesaikan hingga menetas tuntas, biar esok,senyum mampu mencumbu ranum pesona pagi


kerlip yang sempat redup
pk 21.55 tepi malam

Aku...Kamu Dalam Sepenggal Ceritera


oleh Saßitah Sûnyi pada 29 September 2011 pukul 14:14 ·
kamu adalah daun layu ditepian pagi
dan aku adalah sisa embun di gelapan sunyi
...mari sini,cecap bening ini

kamu adalah kelopak kembang mawar yg tertunduk nyilu
dan aku adalah tangkai yang berdiri kokoh
...mari sini biar kusangga layumu, kan kudongakkan tundukmu hingga mampu mencumbu hangatnya mentari pagi

dan sebenarnya kamu adalah bintang
dikelamnya malam
...mari sini kupinjami geliat pendar pijarku
sebab aku,

sabitah sunyi,
yang slalu ada buatmu...

La'la

(396)

Sajak Pagi Buatmu


oleh Saßitah Sûnyi pada 8 Oktober 2011 pukul 22:19 ·
embun-embun masih bergelayut pada dedaun
kabut masih membias lembut memagut ranting-ranting
dan kicau burung kecil masih indah tuk lantunkan simfhoni pagi

mari sini duduk disini kekasih,
kita ulas kembali ceritera malam tadi,
yang belum usai tuk menata sanjak asmaradana

duduk disampingku kekasih, biar ku genggam jemari tanganmu
rasakan hangat tanganku,pun jua lalu kurasakan denyut nadimu...yang adalah denyut nadiku
sebab rasamu tlah mengalir dalam darahku

lihat mawar itu...
meranum bermahkota embun ( selayak senyum indahmu kekasih ) yang kan kupetik buatmu

sanjak ini memang belum usai buatmu

la'la

397

Maaf


oleh Saßitah Sûnyi pada 16 Oktober 2011 pukul 6:13 ·
sembab retinamu seakan letih kala bebutir rembih luruh dipangkumu
hingga sayup lirih tangismu memecah sunyiku

cahyaku,
tak tahukah engkau bahwa teristamu tlah merenai jelaga hatiku ?
Dan tahukah engkau bahwa rapuhmu merenggut batinku, hingga ku kalut menjemput takut yang tak jua beringsut ?

maaf aku yang tlah terlena memungut cita merenai asa
pun maaf tlah melupa masa untukmu

la'la
398

Risau


oleh Saßitah Sûnyi pada 23 Oktober 2011 pukul 11:53 ·
hanya derai rinai hujan kunikmati bingkisan malam ini
tanpa senandungmu yang selalu ku rindu,
yang kini membisu dalam beku tuk kalutkan hatiku

hanya gigil yang memanggil kuresapi malam ini
sebab,
masih ada jawab yang terjerembab dalam tanyaku

...kosong

Hujan


oleh Saßitah Sûnyi pada 6 November 2011 pukul 1:58 ·
renai...
gemulai memagut helai daun
indah sasmita bersama desah pawana

langit...
memendar lembut bias sang surya
terlukis bianglala nan sempurna oleh tujuh warna

bumi...
tersenyum tercumbui lenguhan bening
tak lagi gerah saat tanah mulai basah

adalah hujan
mengikat rindu yang semakin membiru

...buatmu

~la'la~
399

Lagu rindu


oleh Saßitah Sûnyi pada 27 Desember 2011 pukul 9:43 ·
senandungkan keindahan malam selepas rinai hujan
gurat senyap merangkai nada
alunkan tetes bening diantara lentik basah reranting

jumantara langit masih berpayung selendang mendung
sesekali melarik kilat biaskan cahya

malam terasa menggigil
seakan memanggil pesonamu tuk bawakan sekutum rindu yang masih membeku

kekasih,
ditepian sunyi aksara menggulirkan pesona kata...yang tentu buatmu

ya,
buatmu

...tentang sanjak asmaradana yang melagu tembang keindahan rasa...

rindu

~la'la~


***400***

Gelinjang Sunyi

 
oleh Saßitah Sûnyi pada 30 Desember 2011 pukul 14:43 ·
...dan ketika reranting berhenting denting, sepertinya ranting tlah tau bahwa embun sedang mencumbu dedaun
bahkan sepertinya hanya terdiam ketika sayap pawana mengajak bersasmita

TOGEL


oleh Saßitah Sûnyi pada 4 Januari 2012 pukul 10:12 ·
si miskin sigap memungut angka-angka yang berserak bertumpuk tak teratur

kala senja tadi...
saat terbangun dari lelapnya mimpi, si miskin tersenyum seakan tlah mampu hidup bergelimang harta dengan hanya menyebut beberapa angka...jitu !

kemudian ( dalam angan ), si miskin tertawa di depan si kaya sembari berkata; "aku tlah kaya, tak pantas kau hina ! "

...

Togel...
Hiburan si miskin, menahan lapar demi impian kekayaan...semu

Togel...
Kemunafikan aparat, tokoh-tokoh agama...semua nyata didepan mata
HANYA DIAM dalam pembiaran
mungkin juga aku...
kau...
kau...

Juga kalian !

Rapuhmu ...yang adalah rapuhku


oleh Saßitah Sûnyi pada 31 Januari 2012 pukul 10:53 ·
luruh...
detak gemuruh melumat jiwa
lusuh memisuh mengasah gelisah

rapuh...
tulang gemeretak retak
lunglai melambai bak terhempas badai

tentang sedihmu...
rembihmu yang tak mampu kuseka
isakmu yang tak mampu kudekap erat dibahuku

...adalah aku yang terlaram diam dalam kegalauanmu
tak mampu memangku deritamu

la'la